#: locale=en
## Action
### URL
LinkBehaviour_980B51F5_88F9_D38A_41DB_DE9DF5AE901B.source = http://twitter.com/loremipsum
LinkBehaviour_9810521E_88F9_D0B6_41D8_5773EAB4EF5C.source = http://www.facebook.com/loremipsum
LinkBehaviour_980B01F5_88F9_D38A_41D8_2318924F2EB4.source = http://www.facebook.com/loremipsum
LinkBehaviour_9810721F_88F9_D0B6_41B8_CAF5CB446B32.source = http://www.loremipsum.com
LinkBehaviour_980B91F6_88F9_D376_41CD_40130C69C5BB.source = http://www.loremipsum.com
LinkBehaviour_9810621F_88F9_D0B6_41D4_1A0D133D9D3D.source = http://www.twitter.com/loremipsum
WebFrame_9B3963C3_8BD0_0430_41DB_1002BB4640E0.url = https://sketchfab.com/models/99f9996a5d46444baebfc5a545204c63/embed
WebFrame_9F444432_8BD0_EB14_41C2_C97CC4EDCBCE.url = https://sketchfab.com/models/99f9996a5d46444baebfc5a545204c63/embed
WebFrame_9E56A476_8BD1_EB1F_41DB_7619757E01BB.url = https://sketchfab.com/models/99f9996a5d46444baebfc5a545204c63/embed
WebFrame_9AADF018_8BD0_0451_41D3_2F309B452C70.url = https://sketchfab.com/models/99f9996a5d46444baebfc5a545204c63/embed
WebFrame_9A4D7676_8928_F176_41C3_23674CB8D6F4.url = https://sketchfab.com/models/df1d2db88abd4938bd66003868bb53a9/embed
WebFrame_9B178575_8BD0_0CD3_41A6_2CFE001DB91D.url = https://sketchfab.com/models/df1d2db88abd4938bd66003868bb53a9/embed
WebFrame_9F72943F_8BD0_EB0C_41DC_0476D0923D28.url = https://sketchfab.com/models/df1d2db88abd4938bd66003868bb53a9/embed
WebFrame_9ACD2A00_8BD0_0431_41B5_BE0DAA65B24C.url = https://sketchfab.com/models/df1d2db88abd4938bd66003868bb53a9/embed
WebFrame_9F70D44A_8BD0_EB74_41DF_FE79C92E764C.url = https://sketchfab.com/models/df1d2db88abd4938bd66003868bb53a9/embed
WebFrame_9AA0C2CE_8BD0_0430_41DB_C19957BACEF6.url = https://sketchfab.com/models/df1d2db88abd4938bd66003868bb53a9/embed
WebFrame_9B3023CF_8BD0_0430_41D7_87F6CA4C6DE7.url = https://sketchfab.com/models/df1d2db88abd4938bd66003868bb53a9/embed
WebFrame_9B3143C9_8BD0_0430_41D2_E70B0CE5FA09.url = https://sketchfab.com/models/df1d2db88abd4938bd66003868bb53a9/embed
WebFrame_9E4BA47D_8BD1_EB0D_41DE_8E4AE7545C0D.url = https://sketchfab.com/models/df1d2db88abd4938bd66003868bb53a9/embed
WebFrame_9E4A1484_8BD1_EBF3_41D0_2DFB8E4644F7.url = https://sketchfab.com/models/df1d2db88abd4938bd66003868bb53a9/embed
## Hotspot
### Tooltip
HotspotPanoramaOverlayArea_9A9A03E5_8BD3_2D3D_41D7_610EF890EAA0.toolTip = Batara Guru Spot
HotspotPanoramaOverlayArea_9A7914F7_8BD3_6B1C_41C0_49926B5201CD.toolTip = Rahwana Spot
## Media
### Audio
audiores_810A80E5_980B_6824_41E0_CF442DBD00FF.mp3Url = media/audio_8129D848_9807_786C_41E1_710C107B47CB_en.mp3
audiores_9500B4A2_8BD4_9824_41D4_7CB6442283DC.mp3Url = media/audio_9465EDC4_8BD5_8863_41CC_E802B5C9FAE3_en.mp3
audiores_9581CD10_8BD4_89E3_41E0_5C6DC13892FD.mp3Url = media/audio_95501C03_8BD4_8FE4_41A7_F35560844342_en.mp3
### Title
panorama_99469DD5_88F9_D38A_41E1_163D4060DB43.label = Batara Guru
panorama_74D90EF9_7E17_32EC_41C2_C0DCBA0E7E89.label = Museum Wayang
panorama_85900DFF_88E7_F376_41D4_D87C2491A751.label = Rahwana
## Skin
### Button
Button_6B3DCC00_647A_DF9A_41D5_DC120403F72A_mobile.label = 360º VIEWS
Button_6B3DCC00_647A_DF9A_41D5_DC120403F72A.label = 360º VIEWS
Button_6B3517BB_64A6_3EE4_41D7_49868CE9F7A9_mobile.label = BUTTON
Button_727E644B_7DD2_675A_41A5_E1B24D4186E2.label = GO TO BUY
Button_7DE3659A_6911_E2E0_41C3_93316288CBE4.label = GO TO BUY
Button_750C11A1_648F_A89A_41C9_2E58278A81A6.label = INFORMATION
Button_750C11A1_648F_A89A_41C9_2E58278A81A6_mobile.label = INFORMATION
Button_748008CC_648F_B8AA_41C2_97E5C5DE0CD2_mobile.label = PHOTOALBUM
Button_748008CC_648F_B8AA_41C2_97E5C5DE0CD2.label = PHOTOALBUM
### Image
Image_6924E557_649A_33AC_41BA_A1E22386BC22.url = skin/Image_6924E557_649A_33AC_41BA_A1E22386BC22_en.png
Image_6924E557_649A_33AC_41BA_A1E22386BC22_mobile.url = skin/Image_6924E557_649A_33AC_41BA_A1E22386BC22_mobile_en.png
Image_727DA44B_7DD2_675A_4187_461ECAA80913.url = skin/Image_727DA44B_7DD2_675A_4187_461ECAA80913_en.jpg
Image_7DE3B59A_6911_E2E0_41D3_E1AF7DF208C7.url = skin/Image_7DE3B59A_6911_E2E0_41D3_E1AF7DF208C7_en.jpg
Image_9AA072CD_8BD0_0430_41B0_9152380BDD0B.url = skin/Image_9AA072CD_8BD0_0430_41B0_9152380BDD0B_en.jpg
Image_9AADD017_8BD0_045F_41CA_2BA0E183AD21.url = skin/Image_9AADD017_8BD0_045F_41CA_2BA0E183AD21_en.jpg
Image_9ACD09FF_8BD0_07CF_41BE_3231BA1171E4.url = skin/Image_9ACD09FF_8BD0_07CF_41BE_3231BA1171E4_en.jpg
Image_9B17E574_8BD0_0CD1_41B3_2FAB010C5986.url = skin/Image_9B17E574_8BD0_0CD1_41B3_2FAB010C5986_en.jpg
Image_9B250507_8929_5096_41DA_AA2C1A29CA9A.url = skin/Image_9B250507_8929_5096_41DA_AA2C1A29CA9A_en.jpg
Image_9B3073CF_8BD0_0430_41CD_88135921D2FE.url = skin/Image_9B3073CF_8BD0_0430_41CD_88135921D2FE_en.jpg
Image_9B31E3C9_8BD0_0430_41E1_4484BAAF42CF.url = skin/Image_9B31E3C9_8BD0_0430_41E1_4484BAAF42CF_en.jpg
Image_9B3983C3_8BD0_0430_41C0_E5DB06D3DA89.url = skin/Image_9B3983C3_8BD0_0430_41C0_E5DB06D3DA89_en.jpg
Image_9E4A2483_8BD1_EBF5_41D5_1A38486D926F.url = skin/Image_9E4A2483_8BD1_EBF5_41D5_1A38486D926F_en.jpg
Image_9E4BF47D_8BD1_EB0D_41AE_4778F4C5A636.url = skin/Image_9E4BF47D_8BD1_EB0D_41AE_4778F4C5A636_en.jpg
Image_9E560470_8BD1_EB13_41A1_6589B5F6BEC6.url = skin/Image_9E560470_8BD1_EB13_41A1_6589B5F6BEC6_en.jpg
Image_9F471432_8BD0_EB14_41D1_B50E503542E3.url = skin/Image_9F471432_8BD0_EB14_41D1_B50E503542E3_en.jpg
Image_9F73044A_8BD0_EB74_41D9_6C9B45A02B7B.url = skin/Image_9F73044A_8BD0_EB74_41D9_6C9B45A02B7B_en.jpg
Image_9F7D943E_8BD0_EB0C_41D5_A269FFF884C6.url = skin/Image_9F7D943E_8BD0_EB0C_41D5_A269FFF884C6_en.jpg
### Multiline Text
HTMLText_9ABEA2DA_8BD0_05D0_41B8_23EE553DD8AE.html =
___
RAHWANA
Alur cerita pada narasi ini menggunakan alur maju-mundur. Jika tidak dipahami dengan teliti akan sedikit membingungkan pembaca. Ada beberapa bagian yang meloncat cukup jauh saat penulis menceritakan tentang sang tokoh utama menculik Sita,namun pada paragraf berikutnya penulis mundur menceritakan asal dari kekuatannya,dan paragraf terkahir kembali melanjutkan cerita tentang Sita dan Rama. Plot campuran ini sukses memaksa pembaca menguras perhatian saat membaca narasi ini.
Sementara penggunaan bahasa pada narasi ini menggunakan bahasa baku dengan beberapa majas eufimisme seperti : gugur, simbol dan terlibat pertempuran.
HTMLText_9B24A507_8929_5096_41D2_1C4BF5CFE6DE.html = ___
RAHWANA
Alur maju yang digunakan pada narasi ini sangat rapi,dengan menampilkan sejarah singkat awal kehidupan Rahwana dan asal kekuatannya hingga peristiwa yang mengakibatkan tewasnya sang tokoh utama,Rahwana.
Penggunaan bahasa pada narasi ini juga sangat baku sehingga mudah dipahami oleh pembaca dari semua golongan pembaca.
HTMLText_9AAC601E_8BD0_0451_41C2_DAF6CA7ED69F.html = ___
BATARA GURU
Plot progesi atau maju yang sangat teliti dalam menceritakan asal cerita Batara Guru,dari saat kecil hingga sumpah dari sang ayah yang menjadi nyata tanpa,diceritakan oleh penulis dengan sangat ringkas tanpa menghilangkan poin- poin penting dari cerita tersebut.
Gaya bahasa yang jujur dan sederhana merupakan salah satu kelebihan narasi ini. Mengingat nama tokoh yang sedikit kompleks,penulis mampu menggambarkan peristiwa yang terjadi dengan singkat namun berbobot.
HTMLText_9B28F576_8BD0_0CD1_41A5_A4FB1754BEE7.html = ___
RAHWANA
Alur cerita pada narasi ini menggunakan alur maju-mundur. Jika tidak dipahami dengan teliti akan sedikit membingungkan pembaca. Ada beberapa bagian yang meloncat cukup jauh saat penulis menceritakan tentang sang tokoh utama menculik Sita,namun pada paragraf berikutnya penulis mundur menceritakan asal dari kekuatannya,dan paragraf terkahir kembali melanjutkan cerita tentang Sita dan Rama. Plot campuran ini sukses memaksa pembaca menguras perhatian saat membaca narasi ini.
Sementara penggunaan bahasa pada narasi ini menggunakan bahasa baku dengan beberapa majas eufimisme seperti : gugur, simbol dan terlibat pertempuran.
HTMLText_9ACE0A02_8BD0_0431_41DC_A8FBC78F1E64.html = ___
RAHWANA
Alur cerita pada narasi ini menggunakan alur maju-mundur. Jika tidak dipahami dengan teliti akan sedikit membingungkan pembaca. Ada beberapa bagian yang meloncat cukup jauh saat penulis menceritakan tentang sang tokoh utama menculik Sita,namun pada paragraf berikutnya penulis mundur menceritakan asal dari kekuatannya,dan paragraf terkahir kembali melanjutkan cerita tentang Sita dan Rama. Plot campuran ini sukses memaksa pembaca menguras perhatian saat membaca narasi ini.
Sementara penggunaan bahasa pada narasi ini menggunakan bahasa baku dengan beberapa majas eufimisme seperti : gugur, simbol dan terlibat pertempuran.
HTMLText_9E49B478_8BD1_EB13_41D5_BBFD5BD6EBCF.html = ___
MUSEUM WAYANG
Plot progresi pada narasi 1 tertata rapi dari awal sampai akhir sehingga memudahkan pembaca untuk membayangkan bagian per bagian dalam museum dari bagian depan sampai ke bagian belakang museum dari kegiatan berkelompok penulis.
Penggunaan bahasa yang digunakan pada narasi 1 menggunakan bahasa Indonesia baku namun ada beberapa bagian yang menggunakan bahasa tidak baku atau bahasa gaul. Untuk pembaca yang lebih muda tentu akan lebih mudah dipahami,namun untuk pembaca nang lebih dewasa atau lebih tua penggunaan bahasa ini akan sedikit membutuhkan perhatian, dan tidak memungkinkan malah menimbulkan pengertian yang kurang sesuai dengan maksud penulis.
HTMLText_9B3AC3C5_8BD0_0430_41DD_67BF5F0CC5E1.html = ___
RAHWANA
Alur cerita atau plot regresi dipilih penulis untuk menulis narasi ini. Klimaks dari cerita diletakkan diawal cerita,setelah itu penulis mundur ke cerita awal asal dari Batara Guru. Narasi ini agak sedikit kacau karena ada beberapa bagian yang sebaiknya memakai alur maju namun di"mundur"kan oleh penulis,seperti : penyebab ketiga cacat Batara Guru pada paragraf 1,4 dan 5.
Gaya bahasa yang dipakai juga cukup sederhana tanpa penambahan majas,membuat narasi ini ringan dan mudah dipahami.
HTMLText_9B3013CC_8BD0_0430_41C6_A318B3D83F64.html = ___
RAHWANA
Alur cerita pada narasi ini menggunakan alur maju-mundur. Jika tidak dipahami dengan teliti akan sedikit membingungkan pembaca. Ada beberapa bagian yang meloncat cukup jauh saat penulis menceritakan tentang sang tokoh utama menculik Sita,namun pada paragraf berikutnya penulis mundur menceritakan asal dari kekuatannya,dan paragraf terkahir kembali melanjutkan cerita tentang Sita dan Rama. Plot campuran ini sukses memaksa pembaca menguras perhatian saat membaca narasi ini.
Sementara penggunaan bahasa pada narasi ini menggunakan bahasa baku dengan beberapa majas eufimisme seperti : gugur, simbol dan terlibat pertempuran.
HTMLText_9B3343D1_8BD0_0BD0_41C4_A68F69C7E3EC.html = ___
RAHWANA
Alur cerita pada narasi ini menggunakan alur maju-mundur. Jika tidak dipahami dengan teliti akan sedikit membingungkan pembaca. Ada beberapa bagian yang meloncat cukup jauh saat penulis menceritakan tentang sang tokoh utama menculik Sita,namun pada paragraf berikutnya penulis mundur menceritakan asal dari kekuatannya,dan paragraf terkahir kembali melanjutkan cerita tentang Sita dan Rama. Plot campuran ini sukses memaksa pembaca menguras perhatian saat membaca narasi ini.
Sementara penggunaan bahasa pada narasi ini menggunakan bahasa baku dengan beberapa majas eufimisme seperti : gugur, simbol dan terlibat pertempuran.
HTMLText_9E4AA47F_8BD1_EB0D_418B_D4757093488F.html = ___
RAHWANA
Alur cerita pada narasi ini menggunakan alur maju-mundur. Jika tidak dipahami dengan teliti akan sedikit membingungkan pembaca. Ada beberapa bagian yang meloncat cukup jauh saat penulis menceritakan tentang sang tokoh utama menculik Sita,namun pada paragraf berikutnya penulis mundur menceritakan asal dari kekuatannya,dan paragraf terkahir kembali melanjutkan cerita tentang Sita dan Rama. Plot campuran ini sukses memaksa pembaca menguras perhatian saat membaca narasi ini.
Sementara penggunaan bahasa pada narasi ini menggunakan bahasa baku dengan beberapa majas eufimisme seperti : gugur, simbol dan terlibat pertempuran.
HTMLText_9E4DC486_8BD1_EBFF_41BA_A080791D2922.html = ___
RAHWANA
Alur cerita pada narasi ini menggunakan alur maju-mundur. Jika tidak dipahami dengan teliti akan sedikit membingungkan pembaca. Ada beberapa bagian yang meloncat cukup jauh saat penulis menceritakan tentang sang tokoh utama menculik Sita,namun pada paragraf berikutnya penulis mundur menceritakan asal dari kekuatannya,dan paragraf terkahir kembali melanjutkan cerita tentang Sita dan Rama. Plot campuran ini sukses memaksa pembaca menguras perhatian saat membaca narasi ini.
Sementara penggunaan bahasa pada narasi ini menggunakan bahasa baku dengan beberapa majas eufimisme seperti : gugur, simbol dan terlibat pertempuran.
HTMLText_9F78543B_8BD0_EB14_41DA_BEFDBB2C378C.html = ___
MUSEUM WAYANG
Secara sporadik,narasi 2 juga menggunakan plot progresif,namun karena fokus penulis terbagi menjadi pengamatan kegiatan individu,jadi terkesan agak tidak fokus pada alur kegiatan maju itu sendiri. Dan banyak penjelasan tentang kegiatan penulis dan apa yang ada di museum yg terlalu acak,contohnya tentang cerita ramayana: saat penulis menanyakan tentang apakah cerita ramayana itu? (Paragraf 5) tiba - tiba penulis malah membahas tentang yang ada di lantai 2. Setelah itu,kembali membahas tentang ramayana.
Penggunaan bahasa pada narasi 2 menggunakan bahasa indonesia baku kecuali untuk beberapa kata seperti "ga" dan "owh" yang kurang baku. Namun masih bisa dipahami dengan cukup ringan oleh semua golongan pembaca.
HTMLText_9F707446_8BD0_EB7C_41BF_40FCFC6406CC.html = ___
RAHWANA
Alur cerita pada narasi ini menggunakan alur maju-mundur. Jika tidak dipahami dengan teliti akan sedikit membingungkan pembaca. Ada beberapa bagian yang meloncat cukup jauh saat penulis menceritakan tentang sang tokoh utama menculik Sita,namun pada paragraf berikutnya penulis mundur menceritakan asal dari kekuatannya,dan paragraf terkahir kembali melanjutkan cerita tentang Sita dan Rama. Plot campuran ini sukses memaksa pembaca menguras perhatian saat membaca narasi ini.
Sementara penggunaan bahasa pada narasi ini menggunakan bahasa baku dengan beberapa majas eufimisme seperti : gugur, simbol dan terlibat pertempuran.
HTMLText_9F717452_8BD0_EB14_41C5_9B84BF624895.html = ___
RAHWANA
Alur cerita pada narasi ini menggunakan alur maju-mundur. Jika tidak dipahami dengan teliti akan sedikit membingungkan pembaca. Ada beberapa bagian yang meloncat cukup jauh saat penulis menceritakan tentang sang tokoh utama menculik Sita,namun pada paragraf berikutnya penulis mundur menceritakan asal dari kekuatannya,dan paragraf terkahir kembali melanjutkan cerita tentang Sita dan Rama. Plot campuran ini sukses memaksa pembaca menguras perhatian saat membaca narasi ini.
Sementara penggunaan bahasa pada narasi ini menggunakan bahasa baku dengan beberapa majas eufimisme seperti : gugur, simbol dan terlibat pertempuran.
HTMLText_933C256D_8BFC_983D_41D0_B4466F074821.html = BATARA GURU
Alur cerita atau plot regresi dipilih penulis untuk menulis narasi ini. Klimaks dari cerita diletakkan diawal cerita,setelah itu penulis mundur ke cerita awal asal dari Batara Guru. Narasi ini agak sedikit kacau karena ada beberapa bagian yang sebaiknya memakai alur maju namun di"mundur"kan oleh penulis,seperti : penyebab ketiga cacat Batara Guru pada paragraf 1,4 dan 5.
Gaya bahasa yang dipakai juga cukup sederhana tanpa penambahan majas,membuat narasi ini ringan dan mudah dipahami.
HTMLText_93A84A20_8BFD_8823_41DE_A7505D722D8C.html = BATARA GURU
Plot progesi atau maju yang sangat teliti dalam menceritakan asal cerita Batara Guru,dari saat kecil hingga sumpah dari sang ayah yang menjadi nyata tanpa,diceritakan oleh penulis dengan sangat ringkas tanpa menghilangkan poin- poin penting dari cerita tersebut.
Gaya bahasa yang jujur dan sederhana merupakan salah satu kelebihan narasi ini. Mengingat nama tokoh yang sedikit kompleks,penulis mampu menggambarkan peristiwa yang terjadi dengan singkat namun berbobot.
HTMLText_9D4FC302_8BF5_99E7_41C8_71C6C226F0F6.html = MUSEUM WAYANG
Plot progresi pada narasi 1 tertata rapi dari awal sampai akhir sehingga memudahkan pembaca untuk membayangkan bagian per bagian dalam museum dari bagian depan sampai ke bagian belakang museum dari kegiatan berkelompok penulis.
Penggunaan bahasa yang digunakan pada narasi 1 menggunakan bahasa Indonesia baku namun ada beberapa bagian yang menggunakan bahasa tidak baku atau bahasa gaul. Untuk pembaca yang lebih muda tentu akan lebih mudah dipahami,namun untuk pembaca nang lebih dewasa atau lebih tua penggunaan bahasa ini akan sedikit membutuhkan perhatian, dan tidak memungkinkan malah menimbulkan pengertian yang kurang sesuai dengan maksud penulis.
HTMLText_9CA93BA3_8BFD_8825_41B8_C9C0E0031EBC.html = MUSEUM WAYANG
Secara sporadik,narasi 2 juga menggunakan plot progresif,namun karena fokus penulis terbagi menjadi pengamatan kegiatan individu,jadi terkesan agak tidak fokus pada alur kegiatan maju itu sendiri. Dan banyak penjelasan tentang kegiatan penulis dan apa yang ada di museum yg terlalu acak,contohnya tentang cerita ramayana: saat penulis menanyakan tentang apakah cerita ramayana itu? (Paragraf 5) tiba - tiba penulis malah membahas tentang yang ada di lantai 2. Setelah itu,kembali membahas tentang ramayana.
Penggunaan bahasa pada narasi 2 menggunakan bahasa indonesia baku kecuali untuk beberapa kata seperti "ga" dan "owh" yang kurang baku. Namun masih bisa dipahami dengan cukup ringan oleh semua golongan pembaca.
HTMLText_93BBD591_8BFF_B8E5_41C1_F9F241B47223.html = RAHWANA
Alur cerita pada narasi ini menggunakan alur maju-mundur. Jika tidak dipahami dengan teliti akan sedikit membingungkan pembaca. Ada beberapa bagian yang meloncat cukup jauh saat penulis menceritakan tentang sang tokoh utama menculik Sita,namun pada paragraf berikutnya penulis mundur menceritakan asal dari kekuatannya,dan paragraf terkahir kembali melanjutkan cerita tentang Sita dan Rama. Plot campuran ini sukses memaksa pembaca menguras perhatian saat membaca narasi ini.
Sementara penggunaan bahasa pada narasi ini menggunakan bahasa baku dengan beberapa majas eufimisme seperti : gugur, simbol dan terlibat pertempuran.
HTMLText_9CB7B8C2_8BFC_8867_41E0_D81CBB2F59A9.html = RAHWANA
Alur maju yang digunakan pada narasi ini sangat rapi,dengan menampilkan sejarah singkat awal kehidupan Rahwana dan asal kekuatannya hingga peristiwa yang mengakibatkan tewasnya sang tokoh utama,Rahwana. Penggunaan bahasa pada narasi ini juga sangat baku sehingga mudah dipahami oleh pembaca dari semua golongan pembaca.
HTMLText_727E544B_7DD2_675A_41D7_B13EDAF14E19.html = LOREM IPSUM
The Arcona 340, is a 34’1” monohull sailboat designed by Stefan Qviberg. She was built by Arcona Yachts.
Arcona 340's Performances:
Upwind sail area to displacementi: 26.25
Downwind sail area to displacementi: 45.91
Displacement-Length ratio (DLR)i: 156
Ballast ratioi: 37 %
Hull speedi: 7.60 knots
Arcona 340's Auxiliary engine
Engine(s): 1
Engine type: Inboard engine
Engine: 20 HP
Fuel type: Diesel
Fuel tank capacity: 26.4 gal
Arcona 340's Accommodation
Cabin(s): 2
Berth(s) (min/max): 4 / 6
Head(s): 1
Fresh water tank capacity: 34.3 gal
Water heater capacity: 5.3 gal
Holding tank capacity: 13.2 gal
Arcona uses resin infusion to create a light, strong hull and deck comprised of multiaxial rovings and vinylester resin with a Divinycell core. A galvanized steel framework in the base of the hull carries the loads generated by the rig and keel. All bulkheads are laminated to the hull and deck. The keel is a lead bulb bolted onto an epoxy-coated cast-iron fin. The keel-stepped mast is by Seldén. Standing rigging is wire.
A nearly plumb bow and a fairly abrupt reverse transom both look sharp and maximize the boat’s sailing length. End-boom sheeting with traveler and mainsheet controls immediately forward of the helm—right where they belong—show this is a boat that means business on the racecourse.
This is quite simply a nice boat, a sailor’s boat. Its quality construction, styling and many practical seagoing design features result in a smart and make for a fast, comfortable ride underway.
$178,000
HTMLText_7DE3759A_6911_E2E0_41A7_C2659986BA1F.html = LOREM IPSUM
The Arcona 340, is a 34’1” monohull sailboat designed by Stefan Qviberg. She was built by Arcona Yachts.
Arcona 340's Performances:
Upwind sail area to displacementi: 26.25
Downwind sail area to displacementi: 45.91
Displacement-Length ratio (DLR)i: 156
Ballast ratioi: 37 %
Hull speedi: 7.60 knots
Arcona 340's Auxiliary engine
Engine(s): 1
Engine type: Inboard engine
Engine: 20 HP
Fuel type: Diesel
Fuel tank capacity: 26.4 gal
Arcona 340's Accommodation
Cabin(s): 2
Berth(s) (min/max): 4 / 6
Head(s): 1
Fresh water tank capacity: 34.3 gal
Water heater capacity: 5.3 gal
Holding tank capacity: 13.2 gal
Arcona uses resin infusion to create a light, strong hull and deck comprised of multiaxial rovings and vinylester resin with a Divinycell core. A galvanized steel framework in the base of the hull carries the loads generated by the rig and keel. All bulkheads are laminated to the hull and deck. The keel is a lead bulb bolted onto an epoxy-coated cast-iron fin. The keel-stepped mast is by Seldén. Standing rigging is wire.
A nearly plumb bow and a fairly abrupt reverse transom both look sharp and maximize the boat’s sailing length. End-boom sheeting with traveler and mainsheet controls immediately forward of the helm—right where they belong—show this is a boat that means business on the racecourse.
This is quite simply a nice boat, a sailor’s boat. Its quality construction, styling and many practical seagoing design features result in a smart and make for a fast, comfortable ride underway.
$178,000
HTMLText_6BDD8039_64A6_31E4_41D7_D3C38C6C69F2.html =
HTMLText_6BDD8039_64A6_31E4_41D7_D3C38C6C69F2_mobile.html =
## Tour
### Description
### Title
tour.name = MUSEUM WAYANG NONINTERAKTIF NONLINEAR